Harga Diri Ayam
Harga Diri Ayam (ii)
EMHA AINUN NADJIB
TENTU saja jangan menyangka saya bisa berbahasa Italia, apalagi menulis puisi berbahasa Italia. Sedangkan menulis puisi bahasa Indonesia saja dibolak-balik tetap tak kan sampai pada tingkat kemampuan Sutardji Calzoum Bachri,penyair asal Riau yang lahir dari rahim ibunya bahasa Indonesia.
Untunglah kekurangan berbahasa bisa bermanfaat untuk memperdekat hubungan kemanusiaan. Pluralisme tidak hanya berbekal kemampuan. Ketidakmampuan pun menjadi bekal yang baik, asal digoreng dari ketulusan hati.Ketika saya keliling Filipina pada 1980 bersama teman Ambon yang bahasa Inggrisnya hanya dua biji–¡ÉYes¡É dan ¡ÉNo¡É–saya kalah dari dia soal memperoleh banyaknya teman. Dengan menggunakan bahasa badan, sorot mata, ekspresi wajah, teman saya itu menerobos siapa saja dan akhirnya menjadi sahabatnya.
Sementara saya sibuk minder karena bahasa Inggris saya juga hanya unggul beberapa biji dibanding dia. Kalau di luar negeri di mana kita berkomunikasi dengan bahasa Inggris, saya selalu mengawali pidato saya dengan, ¡ÉMemohon maaf atas kacaunya bahasa Inggris saya karena dulu studi saya lebih fokus ke bahasa Arab.¡É Sementara kalau ke negara-negara Timur Tengah tinggal saya balik: ¡É¡Ä.fokus studi saya pada bahasa Inggris.¡É
Hadirin selalu tertawa. Semakin saya berusaha memperbaiki bahasa saya sehingga semakin tampak begonya,mereka semakin sayang sama saya. Puisi untuk Paus itu bahasa Indonesianya dibaca oleh istri saya,bahasa Italianya dibaca oleh teman Italia, musiknya oleh KiaiKanjeng dibikin sangat ¡Ægerejawi¡Ç (sesungguhnya tidak ada musik, nada, irama yang beragama apa pun¡Ä).
Ditambah beberapa nomor lain yang memang kami aransemen khusus untuk publik Italia – penonton Indonesia hanya 5 sampai 7 orang, yang duduk di depan hanya 1 orang: cukuplah untuk membuat banyak orang menangis. Mungkin dalam bayangan mereka orang Islam itu hobinya makan orang, menggoreng jari-jari, kuping, dan buah pelir. Mungkin mereka selama ini berpendapat bahwa bagi orang Islam semua penghuni dunia yang tidak beragama Islam wajib dibunuh, disembelih, ditembak atau dibom. Mungkin secara antropologis mereka punya hipotesis bahwa kaum muslimin kayaknya bukan berasal dari homo erectus atau homo sapien, mungkin homo bombus¡Ä.
Ternyata orang Islam kenal cinta juga. Seusai pentas,selalu,tiga kali standing ovation, soundman KiaiKanjeng dijunjung duduk di atas pundak soundman setempat yang semula cemberut melulu sebelum pementasan. Rizki KiaiKanjeng terbesar di muka bumi ini adalah selalu diremehkan ke manapun mereka pergi, kemudian disayang dengan kadar yang plus karena menyesal meremehkan sebelumnya. Kecuali di Indonesia: KiaiKanjeng tidak diremehkan, juga tidak dijunjung karena tidak ada.
Yang jelas, setelah pementasan di Vatikan itu, juga setelah sekian puluh kali di berbagai negara, Kiai- Kanjeng pentas dengan audiens lintas agama atau lain agama sama sekali, tidak seorang pun dari anggota KiaiKanjeng yang berganti agama,malah semakin pintar menggali dan mengembangkan rasa syukur.
Kiai Kanjeng juga tidak pernah berpikir bahwa orang non-Islam akan menjadi muslim sesudah nonton KiaiKanjeng karena kata Allah, ¡ÉSesungguhnya engkau tak bisa memberi petunjuk kepada siapa pun saja yang kau cintai,melainkan Allah yang memberi petunjuk kepada siapa saja yang Ia maui.¡É Tahun 2008 KiaiKanjeng diundang ke Belanda berdasarkan pertimbangan sesudah adanya kasus Theo van Gogh.
Barusan di sebuah kampung Katolik di Sleman Utara Yogyakarta KiaiKanjeng juga diminta kasih pengajian, padahal penduduk Islamnya hanya penghuni tiga rumah. Di Pasuruan, Pesantren Darut Taqwa yang punya Universitas Yudharta, baru saja minggu kemarin membuka panggung untuk Kiai- Kanjeng memandu silaturahmi antara para pastor, kiai-kiai, tokohtokoh Budha dan Hindu, dengan audiens yang juga campuran. Acara-acara semacam itu bukan untuk mencampuradukkan antara agama Islam dengan agama lain.
Justru dipakai untuk menarik bersama garis-garis ¡Éoffside¡É, ¡Éhandsball¡É, ¡Écornerball¡É dst di antara koridor-koridor teologi yang tegas perbedaannya, namun membuka pintu-pintu butulan kultural,kerja sama ilmu, kongsi ekonomi, dan komitmen politik menjunjung keadilan plural. Saya pribadi melakukan kontrak seumur hidup dunia akhirat tidak akan memasukkan kata ¡Épermusuhan¡É di dalam harddisk kalbu saya. Kalau dimusuhi saya oke, bahkan berterima kasih, sebab itu menguji cinta saya dan menambah kualitas cinta saya jika mampu saya pertahankan di hadapan kebencian dan permusuhan orang lain kepada saya.
Bagi saya,permusuhan tidak ada hubungannya dengan kehidupan, permusuhan hanya punya jodoh kematian.Permusuhan tidak punya ekspresi apa pun kecuali membunuh atau memusnahkan. Tak ada permusuhan dengan perang kata, debat pendapat, persaingan dagang, atau politik. Semua yang ada dalam kehidupan adalah cinta.Jika dipaksa melakukan permusuhan, langkah cuma satu: mati.
Maka saya tak pernah tega melihat orang didorong ke kematian di luar kehendak Tuhan. Misalnya disakiti,dianiaya,ditindas.Seorang sopir ditendang petugas di Bandara Juanda dengan sangat kasar, saya langsung meloncat ke petugas itu, saya banting, saya kunci dan baru saya lepaskan sesudah dia minta maaf kepada orang yang ditendangnya. Sedangkan ayam punya harga diri, apalagi sopir. Suatu siang saya tiba di Tinambung, 350 km Makassar ke utara, keributan terjadi.
¡ÉPasukan Mandar¡É, sekitar 200 orang rakyat, beramai- ramai membawa senjata tajam naik motor, truk, Kijang, dll, menuju Kota Majene. Mereka akan menyerbu kelompok masyarakat di sana yang katanya ¡Émenghina Balanipa¡É. Balanipa adalah Kerajaan Mandar, 7 di pantai 7 di pegunungan, pusatnya di Tinambung. Balanipa adalah kata yang padanya terletak kehormatan dan harga diri suku Mandar.Ada orangorang di Pasar Majene bilang bahwa Balanipa sudah tinggal khayalan dan omong kosong.
Orang-orang Tinambung naik pitam,ramai-ramai menyerbu Majene. Saya ajak seseorang sekenanya naik motor, ngebut sengebut-ngebutnya, kami kejar mereka, kami balap, dan sekitar 200 meter di depan rombongan motor saya hentikan dan saya parkir melintang di tengah jalan. Saya turun dan mencegat menghentikan mereka. ¡ÉKembali semua! Saya tunggu di masjid jami¡Ç bersama Mara¡Çdia!¡É.
Mara¡Çdia adalah sebutan untuk Raja Mandar. Mereka berbalik arah, saya menguntit di belakang mereka. Memasuki Tinambung mereka ke masjid, saya ke rumah Mara¡Çdia, lapor ini itu kemudian kami sama-sama ke Masjid¡É. Suasana sangat tegang, sunyi, namun semua menundukkan muka. Saya membaca Surah An-Nur ayat 35, surat cahaya.Saya katakan kepada mereka ¡É¡Ä.musuh kita bukan manusia.
Musuh kita adalah sistem yang sedang dibangun oleh sebagian manusia yang akan menghancurkan manusia. Sebentar lagi Jembatan Sungai Mandar di utara itu akan dibangun,kelak truk-truk akan masuk dan keluar wilayah Anda.Pikirkan truk itu akan membawa rezeki bagi masyarakat Tinambung ataukah akan merampok kekayaan Anda. Kalau Anda mulai berpikir untuk menjawab itu, maka itulah harga diri Mandar yang kembali dibangkitkan¡Ä¡É(*)
Dikirim
Tanggal : 20-09-2007
12:36
Kategory : Padhang mBulan
Track Back : http://manage.catatanku.com/tb.cgi/18_500_2007_09
Komentar